Pages

Kamis, 10 Mei 2012

Mengintip Komunitas Sepeda Kebo Di Gresik Anggotanya Beragam Profesi, Tapi Harus Warga Gresik


Akhir-akhir ini semakin banyak saja masyarakat yang menggemari kembali aktivitas bersepeda. Alasan yang mereka miliki pun beragam. Mulai dari olah raga, gaya hidup, bahkan sekedar menyalurkan hobi saja. Termasuk komunitas pecinta sepeda kuno di Gresik yang menamakan dirinya Pasegres.

Courtessy: Radar Surabaya (Gresik) Senin 7 Mei 2012

SEBENARNYA di Kota Pudah, penikmat gaya hidup bersepeda cukup banyak. Mulai dari sepeda model fixie, hingga sepeda kebo atau kuno. Bahkan, saat ini juga mulai bermunculan klub penggemar sepeda kebo tersebut. Nama dari klub tersebut adalah Pasegres, yang memiliki singkatan dari Paguyuban Penggemar Sepeda Gresik.
Koordinator Pasegres Suwadi menuturkan, Pasegres awalnya terbentuk sejak tahun 2004. “Lebih tepatnya tanggal 15 Juli 2004,”paparnya.
Menurut Suwadi, komunitas tersebut terbentuk karena berangkat dari keinginan untuk melestarikan populasi dari sepeda kebo yang ada di Gresik. Selain untuk melestarikan populasi sepeda kebo di tengah era modern yang semakin berkembang, Suwadi juga menambahkan, dibentuknya Pasegres tentunya juga untuk memfasilitasi mereka yang memililiki hobi untuk koleksi sepeda kebo tersebut.
“Tentu saja anggotanya adalah harus mereka yang menjadi warga Gresik. Sebab, dari namanya saja cukup khas yakni Gresik,”ucapnya.
Dikatakan, saat ini Pasegres pun sudah memiliki lebih dari 50 orang anggota. Mereka terdiri dari berbagai penggemar sepeda kebo yang ada di Gresik. Diantaranya adalah mulai dari Balong Panggang, Driyorejo, Wringin Anom, Kedamean, Krikilan, Bringkang, Cerme, bahkan Sidayu.
Memang sangat wajar jika Pasegres memiliki anggota yang cukup banyak. Hal itu disebabkan karena persyaratan untuk menjadi anggota Pasegres tidaklah terlalu sulit. Tentu saja, syarat paling utama yang harus dipenuhi oleh mereka yang ingin bergabung dengan Pasegres, adalah harus memiliki sepeda kebo. “Selain itu, mereka juga harus memiliki kecintaan terhadap sepeda kebonya, sebab tidak cukup kalau hanya memiliki sepedanya saja,” kata Suwadi.
Berkumpulnya para penggila sepeda kebo ini di dalam Pasegres pun juga memberikan manfaat yang tidak sedikit kepada para anggotanya. Diantaranya adalah mereka dapat saling menukar informasi diantara para penggemar sepeda tersebut.
Kegiatan yang biasa mereka lakukan pun biasanya juga cukup beragam. Mulai dari hanya sekedar nongkrong di hari Minggu, biasanya mereka juga berkeliling kota Gresik dengan menggunakan sepeda kebanggan mereka masing-masing. Bahkan, tidak jarang dari mereka yang menyertainya dengan menggunakan atribut khas perjuangan, seperti pakaian tentara pejuang jaman dulu, atau pakaian tradisional Jawa.
Kendati, lebih sering merasakan kegembiraan, anggota Pasegres juga tidak lepas dari kesulitan. Hal itu lebih sering disebabkan sulitnya mencari sparepart dari sepeda kebo tersebut. “Karena suku cadabnya kan sudah jarang yang jual di jaman sekarang seperti ini,” tutur Suwadi.
Oleh karena itulah, untuk menyiasati hal itu, tidak jarang diantara anggota Pasegres sering melakukan tukar onderdil atau sparepart dari sepeda kebo tersebut.
Suwadi pun berharap, kedepannya semakin banyak masyarakat Gresik yang menggemari sepeda kebo seperti dirinya. “Karena selain untuk melestarikan budaya, hal itu juga bisa menyelamatkan lingkungan bumi kita,”pungkasnya.

Selasa, 17 April 2012

Muhammad Amanatullah Peserta Unas SMA Semen Gresik: Penuh Semangat Jawab Naskah Dengan Menggunakan Kaki

Semangat yang ditunjukkan oleh Muhammad Amanatullah (18) siswa kelas XII SMA Semen Gresik sungguh luar biasa. Dengan keterbatasan fisik sebagai penyandang tuna daksa, dia tetap mengikuti Ujian Nasional (Unas) dengan kaki.

Courtessy: Radar Surabaya (Gresik) 17 April 2012

TIDAK ada alasan di dunia bagi manusia untuk menyerah pada nasibnya. Sekalipun saat itu manusia tersebut terlahir dengan kondisi yang sangat terbatas. Hal yang dilakukan oleh Aam, penggilan akrab Muhammad Amanatullah.

Dia terlahir dengan kondisi tidak memiliki kedua tangan layaknya manusia normal. Namun kondisi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk menempuh pendidikan sebagaimana anak-anak normal lainnya. Sebalijnya putra bungsu dari pasangan Alianto dan Nasifah ini tetap aktif bersekolah. Dalam Unas dia mengerjakan soal-soal Unas dengan kedua kakinya, karena keterbatasannya tersebut.

Meskipun begitu, hal tersebut tidaklah membuat Aam menjadi berkecil hati. Saat mengerjakan soal tersebut, siswa yang sehari-hari tinggal di Jl Kartini Gang XVI/ 21 Gresik ini tampak tenang, dan tidak ada kekhawatiran sedikit pun dari raut wajahnya.

Selain menggunakan kedua kakinya, Aam pun juga menggunakan bagian tubuh miliknya lainnya yang jugabisa digunakannya untuk mengerjakan soal tersebut, yaitu mulutnya. Namun, Aam terlihat lebih sering menggunakan kedua kakinya untuk mengerjakan soal-soal Unas tersebut.

Aam memang bukanlah tipikan anak yang berwatak manja. Sebab, meskipun memiliki keterbatasan fisik, namun Aam berusaha sebisa mungkin mengerjakan segala sesuatunya tanpa meminta bantuan orang lain. Bahkan, saat di luar Unas pun, ia telah terbiasa mengerjakan segala sesuatunya dengan bagian tubuh lainnya miliknya selain kedua kakinya, seperti mulut dan leher.

Dalam menghadapi Unas tahun ini, Aam pun mengaku telah melakukan berbagai persiapan beberapa waktu yang lalu. Persiapan yang dilakukannya pun juga cukup beragam, mulai dari belajar kelompok bersama temanteman sekelasnya, mengerjakan kisi-kisi soal yang ada di buku latihan, hingga melakukan shalat malam hampir di setiap malam.

Aam mengatakan, dirinya sangatlah optimis untuk mendapatkan nilai yang terbaik dari usahanya dalam Unas tersebut. “Karena saya telah berusaha dengan keras, sehingga saya pun yakin jika saya akan mendapatkan hasil Unas yang baik sesuai dengan usaha yang sudah saya lakukan,”ujarnya optimis.

Wajar saja jika Aam memang terlihat bersemangat, dan berusaha keras dalam menghadapi Unas, dengan segala keterbatasan fisik yang ia miliki. Pasalnya, bungsu dari 6 bersaudara ini ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke sebuah universitas negeri yang ada di Surabaya. Tepatnya, Aam ingin melanjutkan pendidikannya dengan menempuh pendidikan desain grafis. “Itu karena memang sesuai dengan bakat yang mengalir dalam darah seni saya, yaitu seni lukis,”ucapnya.

Kendati demikian, dia mengaku sangat bersemangat dalam mengerjakan berbagai soal Unas tersebut. Dia terlihat tidak ingin terlalu besar kepala dengan berbagai usahanya tersebut. Sebab, terdapat beberapa mata pelajaran yang ia akui dirinya lemah dalam mata pelajaran tersebut. “Saya agak lemah di bidang mata pelajaran IPA dan Matematika,” tuturnya merendah.

Jumat, 13 April 2012

Heny Usi Penulis Muda Gresik: Ajak Anak Muda Tak Takut Bermimpi Lewat Buku

Gresik sepertinya tidak perlu takut kehilangan banyak bibit mudanya untuk berprestasi. Salah
satunya Henny Usi yang menorehkan catatan dalam buku.

Courtessy: Radar Surabaya (Gresik) 14 April 2012

BAHKAN, tidak hanya itu, kini Gresik pun memiliki satu lagi bibit berbakat di bidang dunia tulis menulis.

Penulis muda itu bernama Henny Usi (19). Dia adalah seorang mahasiswi sebuah universitas swasta terkemuka di Gresik. Saat ini, Henny baru saja menulis sebuah buku yang bertemakan tentang motivasi untuk meraih impian.

Dalam buku yang berjudul Sekarang Kita Belum Terkenal, Suatu Saat Nanti Pasti Fenomenal, Henny berusaha untuk membangkitkan semangat anak muda. Upaya itu dilakukan agar mereka tidak takut untuk bermimpi, dan mewujudkan mimpinya. Sebab, menurut Henny, pada saat ini banyak sekali anak muda yang takut untuk mewujudkan mimpi mereka sendiri. “Bahkan, bermimpi saja mereka takut, apalagi mewujudkannya,” ungkapnya.

Oleh karena itulah, cewek asli Gresik ini berusaha untuk mengajak generasi muda tidak takut lagi untuk memiliki impian. “Lha, bermimpi itu kan gratis, tidak bayar, terus kenapa mesti takut?” tuturnya sambil tersenyum.

Henny mengaku, ide awal untuk menulis buku tersebut karena ia terinspirasi dari teman temannya yang senang bermain band. Menurut Henny, temantemannya tersebut memiliki semangat yang sangat kuat dalam mewujudkan impiannya tersebut. “Makanya, saya ingin menularkannya lewat buku yang saya tulis,” ucapnya.

Selain itu, penulisan buku itu juga didasari karena sebuah pengalaman menarik yang pernah dia alami. Saat itu, banyak sekali teman-teman dari Henny yang meragukan mimpinya untuk menjadi seorang penulis. “Makanya, saya ingin membuktikan kepada mereka, bahwa mimpi setinggi apapun itu bisa diraih oleh siapapun,”urainya.

Didalam bukunya, selain memotivasi para pembacanya untuk berani bermimpi, Henny pun juga memberikan kiat-kiat kepada para pembacanya untuk meraih atau mewujudkan mimpi-mimpi mereka tersebut. “Selain itu, juga ada ilustrasi, dan halaman kosong di bagian terakhir buku itu, dimana para pembaca bisa menuliskan mimpi mereka,”ujarnya.

Meskipun pada saat ini buku karangan Henny tersebut masih belum dicetak, namun hingga saat ini sudah terdapat ratusan orang yang sudah memesan bukunya tersebut. Hal itu terlihat dari jumlah pemesan bukunya yang ada di blog miliknya. Pada blog yang memiliki alamat www.kakakbaik.wordpress. com itu, tampak banyaknya permintaan dari berbagai pengunjung yang ada di hampir seluruh Indonesia. Diantaranya adalah Malang, Jakarta, NTT, Lumajang, Pelembang, Banjarmasin, serta dari Gresik sendiri.

Buku tersebut memang diterbitkan oleh Henny secara indie dengan metode self publishing, atau dengan kata lain tanpa melalui perusahaan penerbitan. “Karena selama ini kan kalau melalui penerbit atau dijual melalui toko buku hanya jadi pajangan saja,”kata Henny.

Henny pun berharap, satu bulan saja itu, dirinya mampu memberikan energi positif.

Selasa, 20 Maret 2012

Suliyanto Pengamen Keyboardis: Spesialis Lagu Koes Plus Mangkal di Perempatan Kebomas

Saat lampu merah menyala di perempatan Kebomas, samar-samar terdengar instrumen lagu Kapan- Kapan yang dipopulerkan Koes Plus. Tak ada nyanyian hanya terdengar alunan nada keyboard dimainkan lelaki tua di bawah lampu trafic light. Dia adalah Sulianto, pengamen tua yang sering dijumpai di perempatan Kebomas, tiga tahun terakhir. Siapakah dia sebenarnya, berikut kisahnya.

Courtessy: Radar Surabaya 20 Maret 2012

Jika anda melintas di Jl Wahidin Sudirohusodo, tepatnnya di persimpangan Kebomas, maka anda akan menjumpai seorang pengamen yang cukup unik. Pengamen tersebut cukup unik, karena selain dari sisi pakaiannya yang masih modis walaupun sudah tidak berusia muda lagi, ia juga menggunakan alat musik berupa organ. Lantas siapakah dia?

Namanya adalah Suliyanto (62). Pria asal Wonokromo Surabaya ini, biasanya memulai pekerjaannya untuk mengamen di persimpangan Kebomas, sekitar pukul 15.00 sore, hingga pukul 22.00 malam.

Suliyanto mengaku senang melakukan pekerjaannya sebagai pengamen karena hal itu bisa memberikannya hiburan. “Saya bisa menyanyi sambil menghibur diri sendiri dan orang lain,”tuturnya dengan wajah yang selalu terlihat tersenyum ramah.

Wajar saja jika Suliyanto mengaku dirinya mengamen karena untuk mencari hiburan, karena sebelumnya dirinya memang pernah menjadi salah seorang pemain band. Bapak 2 orang anak, dan kakek 3 orang cucu ini mengatakan, dirinya pernah menjadi personal sebuah band kecil di Surabaya pada tahun 1970 hingga 1974. Menurut pengakuan Suliyanto, band tersebut pada eranya sering dipanggil untuk manggung di daerah Wijaya Kusuma Surabaya.

“Waktu itu saya memegang posisi gitar rhytm,”ucapnya. Makanya tidak perlu heran, jika
pada saat mengamen, Suliyanto terlihat sangat mahir memainkan lagu-lagu dari Koesplus seperti Kolam Susu, ataupun band legendaris asal Inggris The Beatles.

Namun, perjalanan karir sebagai pemain band dari Suliyanto pun tidaklah berjalan mulus. Pada tahun 1974, bandnya bubar, dikarenakan sudah sangat jarang sekali manggung. Akibatnya, Suliyanto pun harus mencari pekerjaan lain untuk menyambung hidupnya. Dia pun melakukan apa saja, asalkan masih bisa mencari sesuap nasi. “Apa saja yang penting halal,”ungkapnya.

“Ya walaupun kadang-kadang masih suka ngeband. Tapi terakhir kali saya ngeband pada tahun 1981,”imbuhnya.

Salah satu pekerjaan yang dipilih oleh Suliyanto pun adalah dengan menjadi penjual tanaman. “Waktu itu kan lagi ramai- ramainya tanaman bonsai,” kata Suliyanto. Akan tetapi, menjalani hidup sebagai seorang penjual tanaman rupanya juga masih belum bisa membuat Suliyanto lupa akan naluri musiknya. Suliyanto pun akhirnya memutuskan untuk seorang pengamen pada tahun 2009, dengan menggunakan organ.

Suliyanto mengaku, saat memutuskan untuk mengamen, dirinya sempat dilarang oleh anak-anaknya. “Katanya, mending jangan pak,”ucapnya. Akan tetapi, karena kecintaannya pada musik sudah sangatlah melekat, akhirnya ia pun nekat melakukan pekerjaan itu.

Selain karena kecintaannya pada musik, Suliyanto mengungkapkan, dia mengamen karena pada dasarnya dia juga tidak ingin menggantungkan hidupnya pada kedua anaknya. “Lumayanlah, sehari saya bisa mendapatkan sekitar Rp 50 ribu,”tuturnya.

Suliyanto juga menuturkan, selain mengamen di Gresik, ia pun juga pernah mengamen di beberapa kota lainnya. “Ya saya pernah ngamen di Jogja dan Solo,”ungkapnya sambil terus menampakkan wajah sumringahnya.


Sabtu, 25 Februari 2012

Lebih Dekat dengan Sanggar Daun Gresik: Selamatkan Lingkungan dengan Kreasi Seni, Lahirkan Prestasi Dunia

Lingkungan yang belakangan ini semakin rusak, membuat sebagian orang berusaha menyelamatkannya. Atau setidaknya ingin mencegah supaya tidak semakin parah. Caranya, ada banyak hal. Salah satunya adalah melalui jalur kesenian.

Courtessy: Radar Surabaya 25 Februari 2012

HAL inilah yang dipilih Sanggar Daun untuk menyelamatkan lingkungan. Sanggar Daun merupakan sebuah sanggar lukis anak yang ada di Gresik, yang memfokuskan pada upaya penyelamatan lingkungan, dengan menggunakan media seni lukis bagi anak-anak.

Koordinator sekaligus pendiri Sanggar Daun, Arik S. Wartono (37), mengatakan dirinya mendirikan sanggar itu pada tahun 2004. Ini diawali rasa keprihatinannya terhadap semakin rusaknya lingkungan hidup yang ada di Indonesia. “Saya ini pada mulanya adalah aktivis lingkungan di Walhi,” akunya.

Meskipun begitu, Arik merasa apa yang dilakukannya selama menjadi aktivis lingkungan masih tidaklah efektif. “Kan kadang kita cuma teriak-teriak, ataupun hanya demo-demo saja Kalau begitu kan namanya itu tidak efektif,” katanya.

Sehingga dari situ, Arik mencari media lain untuk menyuarakan keprihatinannya, dan ia menemukan seni lukis sebagai cara yang bagus sebagai langkah advokasi untuk menyelamatkan lingkungan. “Ya saya juga kan sebenarnya lulusan dari seni rupa, jadi ya agak nyambung,” katanya sambil tersenyum.

Melalui Sanggar Daun, Arik ingin memotong generasi, supaya generasi yang mendatang lebih mencintai lingkungan mereka sendiri. Karena itulah, Arik pun gencar melakukan promosi di sekolah-sekolah, untuk mengajak para siswa lebih mencintai lingkungan, melalui dunia seni lukis.

Dalam memberikan pengajaran kepada para siswanya, Arik lebih memilih mengajak mereka untuk melihat dunia luar, daripada hanya melukis di dalam kelas atau sanggar saja. Sebab, kalau hanya melukis di dalam kelas saja, maka kreatifitas murid menjadi terbatas.

“Nanti anak-anak hanya akan melihat tembok, gurunya, kursi, ataupun mejanya saja. Akibatnya seperti pada saat kita TK dulu, dimana kalau menggambar pemandangan gunung selalu ada jalan, dan matahari,” katanya.

Arik berharap, dengan mengajak para siswanya menggambar di dunia luar, mereka akan bisa lebih mencintai lingkungan dan alam sekitar. “Jadi kalau mereka menggambar pemandangan juga tidak berdasarkan cerita orang-orang saja, tapi langsung di alam,” kata Arik.

Akhirnya, usaha keras yang dilakukan Arik, membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Sanggarnya kini memiliki ratusan siswa untuk menggeluti dunia seni lukis, yang tentunya menggunakan basic kecintaan pada lingkungan dan alam.

Para siswanya sering mengikuti kompetisi melukis yang diadakan dunia internasional, seperti
di Inggris, Jepang. Dan hasilnya, tidak jarang dari mereka tampil sebagai juara. Diantara para siswa Sanggar Daun yang menjadi juara adalah Sabrina Humaira (7) yang menggambar ular tangga, dan menjadi juara pertama Children’s Art Competition of Look&Learn di London. Lalu ada Grandis Vandriana (6), yang menjadi juara 2 dalam IENO- Hikari Association di Jepang.

Bahkan, lanjut Arik, hasil karya para siswanya juga pernah sampai kepada tangan Sekjen PBB Ban Kim Moon. “Saat itu Ban Kim Moon menyatakan rasa kagumnya terhadap seni lukis yang berbasis lingkungan hidup dan alam.”

Selasa, 21 Februari 2012

Warga Cerme Keluhkan Tagihan PDAM Yang Membengkak: Disodori Angka Rp 500 Ribu, Opname 5 Hari di Rumah Sakit

Seorang wanita asal Desa Cerme Kidul Kecamatan Cerme, kemarin mendatangi kantor PDAM kabupaten Gresik, di Kecamatan Kebomas. Wanita itu bernama Nurya Wati. Ada apakah?

Courtessy: Radar Surabaya 22 Februari 2011

NURYA Wati mendatangi kantor PDAM karena merasa dirugikan. Tagihan PDAM membengkak tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Dan akibat tagihan ini, kakaknya harus dirawat di rumah sakit Ibnu Sina Gresik, lantaran kaget.

Kejadian itu bermula ketika bulan Desember tahun 2010, seorang petugas PDAM yang biasa memeriksa meteran datang ke rumah kakaknya Totok Suryadi, untuk menagih
rekening.

Saat itu Totok kaget dengan tagihan yang diterimanya. Sebab, tagihan itu jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Totok merasa ada kejanggalan dalam rekening tagihan itu. menurut Totok, tagihan itu tertukar dengan rekening milik tetangganya. Lantas Totok pun berusaha mengingatkan petugas itu. Namun, petugas dari PDAM itu tetap menyatakan jika tagihan itu memang milik Totok, dan tidak ada yang tertukar.

Totok tidak percaya begitu saja. Sebab, pada bulan-bulan berikutnya, tagihannya tetap saja jauh lebih kecil dari perkiraan pemakaian air di rumahnya. Totok lalu melaporkan kejanggalan itu kepada kantor PDAM cabang Cerme. Tapi, petugas yang ada di kantor tetap mengatakan hal itu memang milik Totok. Meskipun sudah mendapatlkan penjelasan seperti itu, Totok masih tetap tidak menyerah untuk melapor ke kantor itu, setiap bulannya terkait masalah itu.

Masalah baru muncul ketika menginjak bulan November 2011. Saat itu, tagihan rekening Totok tiba-tiba saja menjadi sekitar 90 meter kubik, dengan biaya Rp 500 ribu. Tentu saja Totok merasa kaget dan keberatan dengan hal itu, hingga dia jatuh sakit, dan harus dirawat di rumah
sakit selama 5 hari.

Totok kemudian meminta adiknya Nurya Wati untuk mengklarifikasi itu kepada pihak PDAM. Saat mendatangi kantor PDAM cabang Cerme, Nur justru mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan. Ia diusir dari kantor itu oleh Kepala Cabang PDAM Cerme. "Mereka bilang, katanya saya mau enaknya sendiri. Katanya, kalau tagihannya sedikit saya diam saja, tapi kalau banyak kok protes?" jelas Nurya.

Nurya tidak terima dengan tuduhan itu. Selama ini kakaknya sudah melaporkan semua permasalahan itu. Akhirnya Nurya pun mengadukan masalah itu kepada Dirut PDAM Muhammad di kantornya, kemarin (21/2), bersama para wartawan.

Pada saat akan memasuki kantor PDAM, pihak sekuriti sempat melarang para wartawan untuk masuk, dengan alasan perintah atasan. Namun, setelah salah seorangwartawan menghubungi hp
milik Muhammad, Dirut PDAM itu membolehkan para wartawan masuk. Di dalam kantor PDAM itu, Nurya mengadukan masalahnya.

Menanggapi hal itu, Muhammad hanya berjanji segera menyelesaikan masalah itu. "Saya pastikan nanti, beliau tidak akan dikenakan denda dan akumulasi dari tagihan rekening yang keliru itu. Saya juga akan memberikan peringatan kepada Kepala Kantor Cabang Cerme yang telah berperilaku tidak menyenangkan itu kepada konsumen," kata.

Kamis, 16 Februari 2012

Siswa SMK SGF Bereksperimen Untuk Selamatkan Lingkungan: Membuat Pupuk Kompos Organik, dan Minyak dari Pohon Jarak

Kondisi cuaca dan lingkungan bumi semakin tidak menentu. Perubahan musim, ataupun iklim bisa terjadi sewaktu waktu tanpa bisa diperkirakan. Alam tidak lagi ramah terhadap manusia, yang disebabkan tangan manusia itu sendiri, dan lebih sering disebut dengan global warming. Bagaimana mengatasi hal itu, siswa SKM Semen Gresik menjawabnya.

Courtessy: Radar Surabaya 17 Februari 2012

UNTUK mengurangi berbagai dampak buruk dari global warming, manusia melakukan berbagai usaha untuk lebih mencintai lingkungan hidupnya. Salah satunya seperti yang dilakukan para siswa dari SMK Semen Gresik, yang berusaha membuat pupuk kompos organik, dan minyak dari pohon jarak.

Dengan berbekal mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup yang mereka dapatkan di sekolah, puluhan pelajar SMK melakukan simulasi pembuatan pupuk kompos organik dan minyak pohon jarak. Eksperimen itu mereka lakukan di kebun percobaan (Buncob) Semen Gresik Foundation (SGF) yang terletak di jalan Kawasan Industri Gresik (KIG), pada Rabu siang (15/02).

Mereka membuat pupuk kompos organik dengan dua model. Yang pertama adalah dengan menggunakan model kompos organik secara semi aerob atau yang lebih dikenal dengan vermentasi. Sedangkan, model yang kedua adalah dengan cara menggunakan tong komposer.

Yang membedakan antara kedua model tersebut adalah terletak pada media yang digunakan, serta lama waktu yang dibutuhkan. Untuk membuat pupuk kompos organik semi aerob hanyalah dibutuhkan waktu 7 hari saja. Sedangkan, apabila kita ingin membuat pupuk kompos organik dengan menggunakan tong komposer, maka waktu yang dibutuhkan relatif lebih lama, yaitu lebih dari 40 hari.

Dalam percobaan itu, terlihat jika pembuatan pupuk kompos organik tidaklah terlalu sulit, hanya dibutuhkan beberapa peralatan sederhana saja. Diantaranya adalah mesin gilas yang memiliki fungsi untuk memotong- motong sampai halus daun-daun atau sampah organik. Lalu, pipa paralon yang bisa berfungsi sebagai aliran atau saluran udara atau gas. Serta tong yang terbuat
dari karet, dan kedap udara.

Sedangkan untuk bahan-bahan yang dibutuhkan juga terbilang sangat mudah untuk didapatkan. Bahan-bahan itu antara lain adalah beberapa bahan yang sering disebut sebagai sampah organik, seperti dedaunan, kulit buah, sekam, dedek (semacam makanan ternak), ragi, dan blotong atau limbah gula.

Hal itu disampaikan oleh Manager Hortikultura dari SGF Febrina Puspita Sari. Febrina mengatakan, penyebab para petani masih jarang menggunakan pupuk kompos karena minimnya pengetahuan mengenai fungsi dan manfaat dari pupuk kompos.

About

Planet Blog

PlanetBlog - Komunitas Blog Indonesia

Indonesian Blogger